-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Banten Masuk 8 Besar Produsen Beras Nasional, Andra Soni Dorong Pertanian Modern

Rabu, 06 Mei 2026 | 06.47.00 WIB Last Updated 2026-05-05T23:48:45Z
Gubernur Banten, Andra Soni Saat Tinjau Lokasi Pertanian 


SERANG, bbiterkini – Gubernur Banten, Andra Soni, mengungkapkan posisi Provinsi Banten kini masuk delapan besar nasional dalam produksi beras. Capaian ini sekaligus mempertegas daya tahan pangan daerah yang dinilai tetap solid berdasarkan Indeks Ketahanan Pangan.


Pernyataan itu disampaikan saat kegiatan tanam perdana program Pertanian Modern Advanced Agriculture System (PM-AAS) yang digagas Kementerian Pertanian di Kasemen, Kota Serang, Selasa (5/5/2026).


“Pada 2025, luas panen padi Banten mencapai 345.421 hektare dengan produksi sekitar 1,8 juta ton,” kata Andra.


Angka tersebut menempatkan Banten sebagai produsen padi terbesar kedelapan di Indonesia. Dalam enam tahun terakhir, indikator ketahanan pangan daerah juga disebut konsisten terjaga.


Dorong Produktivitas Lewat Modernisasi


Andra menilai, transformasi pertanian berbasis teknologi menjadi kunci untuk menjaga tren positif tersebut. Ia mengacu pada data Badan Pusat Statistik yang mencatat sektor pertanian, perikanan, dan kehutanan di Banten tumbuh hingga 9,60 persen tertinggi dibanding sektor lain.


Menurutnya, sistem pertanian modern mampu mengerek hasil panen secara signifikan. Dari sebelumnya 3,25–4,5 ton per hektare, produktivitas berpotensi naik menjadi 5,1–7,5 ton, bahkan hingga 10 ton dalam kondisi optimal.


Selain meningkatkan hasil, mekanisasi juga dinilai memangkas biaya produksi. Dampaknya langsung terasa pada peningkatan kesejahteraan petani.


“Efisiensi ini penting, apalagi kebutuhan pangan terus meningkat, termasuk untuk program Makan Bergizi Gratis,” ujarnya.


Banten sendiri diperkirakan memiliki sekitar 3,5 juta penerima manfaat program tersebut, dengan mayoritas kebutuhan pangan bertumpu pada sektor pertanian dan peternakan.


Teknologi Presisi dari Luar Negeri


Sekretaris Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian Kementan, Husnain, menjelaskan sistem PM-AAS diadaptasi dari praktik pertanian di Arkansas yang dipelajari langsung oleh Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman.


Model ini menekankan pola tanam lebih rapat untuk meningkatkan populasi tanaman dalam satu lahan.


“Semakin padat populasi, semakin tinggi potensi produksinya,” kata Husnain.


Saat ini, program percontohan di Banten mencakup 100 hektare lahan di Kasemen dan menjadi bagian dari 15 titik uji coba nasional di 14 provinsi.


Biaya Turun, Petani Mulai Beralih


Kepala wilayah Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Pertanian Banten, Andry Polos, menargetkan produktivitas hingga 10 ton per hektare melalui pendekatan berbasis presisi.


Enam prinsip utama diterapkan: tanam rapat, digitalisasi, mekanisasi, skala luas, intensifikasi, dan pendekatan spesifik lokasi.


Respons petani pun mulai berubah. Ketua Poktan Masyarakat Guyub 1, Andi Kamal, menyebut penggunaan alat mesin terbukti memangkas biaya tanam secara drastis.


“Kalau manual bisa Rp2 juta per hektare, sekarang cukup sekitar Rp200 ribu dengan mesin,” ujarnya.


Saat ini, produktivitas lahan percontohan di Banten berada di kisaran 6–6,5 ton per hektare menggunakan varietas Inpari 32. Program ini melibatkan empat kelompok tani dengan total 90 anggota.


Modernisasi yang berjalan cepat ini menjadi sinyal kuat: pertanian Banten tidak lagi sekadar bertahan, tetapi mulai melompat ke arah efisiensi dan produksi tinggi.


Penulis: Elfan

Editor: Noval Abraham