-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Epic Fury Dihentikan, AS Masih Gertak Iran dengan Ancaman Bom

Kamis, 07 Mei 2026 | 12.35.00 WIB Last Updated 2026-05-07T05:36:34Z
Presiden Donald Trump (Sumber: Foto AP/Jacquelyn Martin)


Jakarta, bbiterkini – Amerika Serikat mulai mengubah arah setelah operasi militer besar terhadap Iran yang dikenal dengan nama Epic Fury dinyatakan selesai. Namun di balik klaim berakhirnya operasi itu, Gedung Putih tetap mengirim ancaman keras yang menandakan konflik belum benar-benar dingin.


Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan fase ofensif militer Washington terhadap Iran telah ditutup. Pernyataan itu disampaikan hampir sebulan setelah gencatan senjata diumumkan.


“Operasi telah berakhir. Tahap itu sudah selesai,” kata Rubio di Gedung Putih.


Washington menegaskan operasi tersebut bukan perang terbuka, melainkan langkah defensif untuk menekan Iran setelah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah.


Rubio menyebut AS hanya akan bergerak jika kembali mendapat serangan. Meski begitu, pernyataan tersebut dinilai menjadi sinyal bahwa militer AS tetap siaga penuh menghadapi kemungkinan eskalasi baru.


Di saat pemerintahannya mencoba meredam tensi, Presiden Donald Trump justru tampil dengan nada berbeda. Ia mengecilkan perang tersebut dengan menyebut Iran sejak awal tidak memiliki kekuatan untuk melawan dominasi militer Amerika Serikat.


“Ini hanya pertempuran kecil. Iran tidak pernah punya peluang,” ujar Trump.


Pernyataan itu muncul di tengah kritik publik Amerika terhadap keterlibatan militer AS yang dinilai berisiko menyeret konflik lebih luas di Timur Tengah.


Ancaman Baru di Balik Gencatan Senjata


Meski operasi diklaim selesai, Trump belum benar-benar menurunkan tekanan terhadap Teheran. Dalam unggahan di Truth Social, ia justru melontarkan ultimatum yang memperlihatkan situasi masih rapuh.


Trump mengatakan pengeboman dapat kembali dilakukan jika Iran menolak kesepakatan yang sedang dibahas.


“Jika mereka tidak setuju, pengeboman akan dimulai lagi dengan intensitas yang jauh lebih tinggi,” tulis Trump.


Pernyataan itu memperlihatkan strategi AS kini bergerak di dua jalur sekaligus: diplomasi di meja negosiasi dan ancaman militer di lapangan.


Washington juga menilai tekanan selama operasi Epic Fury telah menghantam ekonomi Iran secara serius. Pemerintah AS mengklaim sejumlah fasilitas strategis Iran mengalami kerusakan besar selama serangan berlangsung.


Konflik memanas sejak 28 Februari ketika Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan ke sejumlah titik penting di Iran. 


Teheran kemudian membalas lewat serangan rudal dan drone yang meningkatkan kekhawatiran dunia terhadap pecahnya perang regional.


Gencatan senjata diumumkan pada 8 April dan masih berlaku hingga kini. Namun jalur negosiasi antara AS dan Iran disebut belum menemukan titik temu.


Situasi itu membuat kawasan Timur Tengah masih berada di bawah bayang-bayang konflik baru, terutama terkait keamanan jalur energi dunia di Selat Hormuz yang menjadi salah satu titik paling sensitif dalam geopolitik global.



Penulis:Elfan 

Editor: Noval Abraham