BREAKING NEWS

Pendaki Ilegal Semeru Selamat dari Jurang 375 Meter, Evakuasi Libatkan 60 Personel SAR

Tim SAR gabungan mengevakuasi Cakra dari lereng terjal Gunung Semeru menggunakan metode slope rescue.

MALANG, BBITerkini – Operasi penyelamatan selama empat hari di medan ekstrem Gunung Semeru akhirnya berbuah hasil. Cakra (18), pendaki yang dilaporkan terjatuh ke jurang sedalam sekitar 375 meter, berhasil dievakuasi dalam keadaan selamat oleh tim SAR gabungan setelah melalui proses penyelamatan yang penuh risiko.

Sebanyak 60 personel SAR gabungan diterjunkan dalam operasi kemanusiaan tersebut. Mereka berasal dari berbagai unsur, termasuk Basarnas, Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), relawan, tenaga medis, dan instansi terkait lainnya.

Korban bersama dua pendaki lainnya tiba di posko evakuasi pada Jumat (5/6/2026) pukul 19.26 WIB setelah menempuh perjalanan panjang melalui jalur pegunungan yang curam dan rawan longsor.

Kepala Kantor SAR Surabaya, Nanang Sigit, mengatakan proses evakuasi berlangsung dalam kondisi yang tidak mudah. Selain medan terjal, tim juga menghadapi debu vulkanik yang menutupi jalur pendakian serta kabut tebal yang mengurangi jarak pandang.

“Permukaan tanah di beberapa lokasi tertutup debu vulkanik. Menjelang sore hari, tim SAR gabungan juga harus lebih berhati-hati karena kabut mulai menutup pandangan,” kata Nanang dalam keterangannya, Sabtu (6/6/2026).

Karena beratnya medan yang harus dilalui, tim penyelamat sempat beristirahat pada pukul 14.30 WIB sebelum melanjutkan perjalanan. Empat personel tambahan kemudian diterjunkan untuk membawa logistik dan membantu proses pengangkutan korban menuju posko.

Setibanya di lokasi aman, tim medis dari Dinas Kesehatan Kabupaten Malang langsung memberikan penanganan kepada korban. Setelah kondisinya dinyatakan stabil, Cakra kemudian diserahkan kepada pihak keluarga.

Terjatuh Saat Mendaki Lewat Jalur Tidak Resmi

Berdasarkan data Balai Besar TNBTS, Cakra diketahui melakukan pendakian melalui jalur tidak resmi menuju kawasan Gunung Semeru.

Korban bersama rekannya masuk melalui jalur Candi Jawar Purbakala di wilayah Ampelgading, Kabupaten Malang, pada Sabtu (30/5/2026). Jalur tersebut bukan merupakan akses pendakian wisata yang dikelola oleh TNBTS.

Kepala Balai Besar TNBTS, Rudijanta Tjahja Nugraha, menegaskan bahwa hingga saat ini pendakian menuju puncak Mahameru masih ditutup karena aktivitas vulkanik Gunung Semeru yang masih dipantau secara intensif.

“Jalur yang digunakan bukan merupakan jalur resmi pendakian wisata yang dikelola Balai Besar TNBTS. Hingga saat ini pendakian menuju puncak Gunung Semeru masih ditutup sehubungan dengan aktivitas vulkanologi,” ujarnya.

Insiden terjadi pada Senin (1/6/2026) sekitar pukul 10.00 WIB. Saat berada di kawasan lereng Semeru, korban dilaporkan terperosok ke jurang sedalam sekitar 375 meter.

Sebelum komunikasi terputus, korban sempat mengirimkan titik koordinat terakhir kepada orang tuanya sekaligus meminta bantuan. Informasi tersebut menjadi petunjuk awal yang membantu tim penyelamat menentukan lokasi pencarian.

Setelah melakukan penyisiran selama hampir satu hari, tim SAR gabungan akhirnya menemukan korban pada Selasa (2/6/2026) sekitar pukul 10.00 WIB dalam keadaan hidup.

Evakuasi Gunakan Teknik Slope Rescue

Meski berhasil ditemukan, proses penyelamatan tidak bisa dilakukan secara cepat karena lokasi korban berada di medan yang sangat berbahaya.

Untuk mencapai titik keberadaan korban, tim SAR harus berjalan kaki selama sekitar delapan jam dari posko menuju lokasi kejadian. Medan berupa lereng curam, bebatuan labil, dan jalur sempit membuat proses evakuasi berlangsung penuh kehati-hatian.

Nanang menjelaskan bahwa korban mengalami dislokasi pada pergelangan kaki kanan sehingga harus mendapatkan penanganan khusus sebelum dipindahkan.

“Supaya meminimalisir pergerakan dan agar tidak semakin bengkak maka kaki survivor memang harus dibidai,” katanya.

Tim SAR kemudian menerapkan metode slope rescue, yaitu teknik penyelamatan yang digunakan untuk mengevakuasi korban dari medan miring, tebing, maupun jurang terjal.

Korban ditempatkan di dalam tandu khusus jenis rolling stretcher dan diamankan menggunakan sistem tali. Selanjutnya korban ditarik secara bertahap menuju titik aman di atas jurang sebelum ditandu menuju posko evakuasi.

“Dari jurang, survivor dievakuasi dengan slope rescue menuju titik kumpul tim SAR gabungan yang ada di atas. Setelah itu korban ditandu turun menuju posko,” ujar Nanang.

Keberhasilan operasi ini menjadi bukti pentingnya koordinasi lintas instansi dalam menghadapi situasi darurat di kawasan pegunungan. Di sisi lain, insiden yang nyaris merenggut nyawa pendaki muda tersebut menjadi pengingat bahwa pendakian melalui jalur ilegal tidak hanya membahayakan diri sendiri, tetapi juga mempertaruhkan keselamatan puluhan personel penyelamat yang harus bekerja di medan ekstrem demi menyelamatkan nyawa manusia.


Penulis: Joe

Editor: Arohman Ali

Pilihan Redaksi

Trending Hari Ini