Hari Lingkungan Hidup 2026, Jateng Tanam 92.290 Mangrove untuk Bentengi Pesisir dari Abrasi
![]() |
| Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi bersama peserta menanam mangrove di Pantai Tirang, Semarang, dalam peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026. |
SEMARANG, BBITerkini – Sebanyak 92.290 bibit mangrove dan tanaman pesisir ditanam serentak di 16 kabupaten dan kota pesisir Jawa Tengah dalam rangka peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026. Aksi penghijauan tersebut dipusatkan di Pantai Tirang, Kota Semarang, Sabtu (6/6/2026), sebagai upaya memperkuat perlindungan kawasan pesisir dari ancaman abrasi, rob, dan dampak perubahan iklim.
Di lokasi utama kegiatan, sebanyak 2.750 bibit mangrove dan 200 batang cemara laut ditanam bersama oleh pemerintah daerah, komunitas lingkungan, pelajar, mahasiswa, dan masyarakat. Kegiatan itu dipimpin langsung oleh Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi.
Menurut Luthfi, menjaga lingkungan bukan hanya menjadi tugas pemerintah, melainkan tanggung jawab seluruh elemen masyarakat. Ia menegaskan bahwa persoalan lingkungan membutuhkan kesadaran kolektif dan aksi nyata yang berkelanjutan.
"Menjaga lingkungan adalah tanggung jawab bersama. Kita harus memastikan alam yang kita wariskan kepada generasi berikutnya tetap terjaga," kata Luthfi.
Penanaman mangrove tersebut merupakan bagian dari program Gerakan Mageri Segoro, sebuah inisiatif Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang bertujuan memperkuat perlindungan kawasan pesisir melalui penghijauan dan rehabilitasi lingkungan pantai.
Luthfi menjelaskan, filosofi Mageri Segoro berarti memberikan "pagar" alami bagi laut melalui penanaman vegetasi pesisir yang mampu menahan gelombang dan mengurangi dampak abrasi.
"Mageri Segoro itu segoro yang dikasih pager. Artinya, laut kita harus kita pagari," ujarnya.
Ia mengungkapkan, sejumlah wilayah pesisir utara Jawa Tengah saat ini menghadapi tekanan serius akibat abrasi dan rob. Karena itu, keberadaan mangrove menjadi salah satu solusi alami yang dinilai efektif menjaga garis pantai sekaligus mendukung keberlanjutan ekosistem pesisir.
Namun demikian, Luthfi mengingatkan bahwa keberhasilan program tidak cukup hanya dengan menanam. Bibit yang telah ditanam harus mendapatkan perawatan dan pemantauan secara rutin agar tingkat keberhasilannya tinggi.
Ia meminta dinas terkait, kelompok masyarakat, pegiat lingkungan, hingga kawasan industri turut berperan dalam menjaga tanaman yang sudah ditanam, terutama karena kegiatan berlangsung menjelang musim kemarau.
"Minimal tiga hari sekali dilakukan pengecekan," tegasnya.
Selain persoalan abrasi, Gubernur Jawa Tengah juga menyoroti pengambilan air tanah yang dinilai berkontribusi terhadap penurunan muka tanah di kawasan pesisir. Ia meminta evaluasi kebijakan pengambilan air tanah dilakukan secara berkala untuk mengurangi risiko tersebut.
Menurutnya, pemerintah daerah perlu memperkuat layanan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) melalui BUMD agar masyarakat memiliki akses air bersih yang memadai tanpa bergantung pada eksploitasi air tanah.
Luthfi juga mendorong pemanfaatan teknologi desalinasi bagi masyarakat pesisir, khususnya nelayan, sebagai salah satu alternatif penyediaan air bersih di masa mendatang.
Dalam kesempatan yang sama, ia menyoroti persoalan sampah yang masih menjadi tantangan besar di berbagai daerah. Sesuai arahan Presiden RI Prabowo Subianto, Indonesia menargetkan tercapainya kondisi zero waste pada tahun 2029.
Untuk mendukung target tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah memetakan pengelolaan sampah di seluruh kabupaten dan kota. Daerah dengan timbulan sampah mencapai sekitar 1.000 ton per hari akan diarahkan menggunakan sistem pengelolaan regional atau aglomerasi.
Peserta kegiatan dari Saka Kalpataru, Aisyah, berharap penanaman mangrove yang dilakukan dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi keberlanjutan Pantai Tirang.
"Harapan saya, semoga Pantai Tirang ini jangan sampai terkikis oleh air laut," katanya.
Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 tingkat Provinsi Jawa Tengah mengusung tema "Saatnya Bekerja untuk Iklim". Tema tersebut dinilai relevan mengingat dampak perubahan iklim semakin nyata dirasakan masyarakat, mulai dari meningkatnya kejadian bencana hidrometeorologi hingga ancaman terhadap kawasan pesisir.
Melalui penanaman puluhan ribu mangrove dan tanaman pesisir secara serentak, Jawa Tengah berupaya memperkuat benteng alami kawasan pantai sekaligus mengajak masyarakat terlibat langsung dalam menjaga kelestarian lingkungan.
Penulis: Mas Ageng Pinandita
Editor: Noval Abraham
