Inflasi Jasa Angkutan Penumpang Tembus 8,03 Persen, Tiket Pesawat Jadi Beban Baru Masyarakat
![]() |
| Foto: Ilustrasi aktivitas penumpang di bandara. Kenaikan tarif angkutan udara menjadi salah satu penyumbang utama inflasi sektor transportasi pada Mei 2026. (Foto: Ilustrasi/BBITerkini) |
JAKARTA, BBITerkini – Data inflasi Mei 2026 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan adanya tekanan signifikan pada biaya mobilitas masyarakat, khususnya di sektor transportasi udara. Di tengah inflasi kelompok transportasi yang relatif terkendali, lonjakan harga jasa angkutan penumpang menjadi sorotan karena berpotensi memengaruhi konektivitas antarwilayah dan aktivitas ekonomi nasional.
BPS mencatat kelompok pengeluaran transportasi mengalami inflasi tahunan (year-on-year/yoy) sebesar 2,30 persen pada Mei 2026. Indeks kelompok ini meningkat dari 109,89 pada Mei 2025 menjadi 112,42 pada Mei 2026.
Direktur Statistik Harga BPS, Sarpono, menyampaikan bahwa kenaikan tersebut masih berada dalam kisaran moderat. Namun, jika ditelusuri lebih rinci, subkelompok jasa angkutan penumpang justru mencatat inflasi mencapai 8,03 persen secara tahunan.
Angka tersebut menunjukkan biaya perjalanan masyarakat yang mengandalkan transportasi umum mengalami kenaikan jauh lebih tinggi dibandingkan sejumlah komponen transportasi lainnya.
Tarif Pesawat Beri Andil Besar terhadap Inflasi
Dalam laporan Perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK) Mei 2026, BPS mencatat tarif angkutan udara menjadi salah satu komoditas yang memberikan andil terbesar terhadap inflasi nasional.
“Komoditas yang dominan memberikan sumbangan inflasi y-on-y yaitu tarif angkutan udara sebesar 0,14 persen dan mobil sebesar 0,03 persen,” ujar Sarpono, Selasa (2/6/2026).
Data tersebut menempatkan tarif pesawat sebagai salah satu faktor penting yang memengaruhi kenaikan harga pada kelompok transportasi.
Sementara itu, kondisi berbeda terlihat pada pengguna kendaraan pribadi. BPS mencatat subkelompok pengoperasian peralatan transportasi pribadi hanya mengalami inflasi sebesar 0,98 persen secara tahunan.
Bahkan tarif jalan tol tercatat memberikan andil deflasi sebesar 0,01 persen terhadap inflasi nasional.
Perbedaan ini menunjukkan adanya kesenjangan tekanan biaya antara masyarakat yang memiliki akses terhadap infrastruktur transportasi darat dengan masyarakat yang masih sangat bergantung pada transportasi udara.
Tantangan Konektivitas di Negara Kepulauan
Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki karakteristik geografis yang membuat transportasi udara memegang peran penting dalam menghubungkan berbagai wilayah.
Bagi masyarakat di sejumlah daerah luar Pulau Jawa, pesawat menjadi sarana utama untuk mengakses layanan pendidikan, kesehatan, perdagangan, hingga aktivitas pemerintahan.
Karena itu, kenaikan biaya transportasi udara tidak hanya berdampak pada perjalanan individu, tetapi juga berpotensi memengaruhi aktivitas ekonomi dan sosial secara lebih luas.
Di sisi lain, masyarakat yang berada di wilayah dengan akses jalan tol dan jaringan transportasi darat yang memadai relatif memiliki lebih banyak pilihan moda transportasi dengan biaya yang lebih stabil.
Kondisi tersebut memperlihatkan tantangan yang masih dihadapi Indonesia dalam mewujudkan konektivitas yang merata di seluruh wilayah.
Dampak terhadap Mobilitas dan Ekonomi
Mahalnya biaya perjalanan udara berpotensi memengaruhi mobilitas masyarakat antarwilayah. Perjalanan untuk kepentingan keluarga, pendidikan, pekerjaan maupun usaha dapat menjadi lebih mahal dibandingkan tahun sebelumnya.
Selain itu, sektor pariwisata domestik juga berpotensi menghadapi tekanan apabila biaya transportasi menuju destinasi tertentu terus meningkat. Beberapa daerah wisata yang sangat bergantung pada penerbangan dapat terdampak oleh menurunnya daya beli wisatawan.
Dari sisi distribusi barang, transportasi udara masih menjadi salah satu moda penting bagi sejumlah wilayah yang memiliki keterbatasan akses darat maupun laut. Karena itu, perubahan biaya transportasi udara juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan dalam menjaga stabilitas harga barang di daerah.
BPS mencatat Provinsi Papua Barat mengalami inflasi tahunan sebesar 5,94 persen pada Mei 2026.
Meski inflasi daerah dipengaruhi berbagai faktor, biaya transportasi tetap menjadi salah satu aspek yang kerap mendapat perhatian dalam analisis perkembangan harga di wilayah kepulauan.
Perlu Evaluasi Berkelanjutan
Kenaikan inflasi jasa angkutan penumpang hingga 8,03 persen menjadi sinyal penting bagi para pemangku kebijakan untuk terus menjaga keseimbangan antara keberlanjutan industri penerbangan dan keterjangkauan biaya transportasi bagi masyarakat.
Evaluasi terhadap berbagai faktor yang memengaruhi harga tiket pesawat, mulai dari biaya operasional, avtur, hingga kebijakan tarif penerbangan, dinilai penting agar konektivitas nasional tetap terjaga.
Di tengah upaya pemerintah memperkuat integrasi ekonomi antarwilayah, keterjangkauan transportasi udara menjadi salah satu faktor yang dapat menentukan keberhasilan pembangunan yang inklusif dan merata.
Ketika mobilitas masyarakat semakin mudah dan terjangkau, manfaat pembangunan dapat dirasakan lebih luas oleh seluruh daerah di Indonesia.
Penulis: Arohman Ali
Editor: Redaksi BBI
.jpeg)