Trump Bawa Nama Xi Jinping Saat Ancaman Serangan AS ke Iran Kembali Menguat
![]() |
| Trump Tampil Percaya Diri |
WASHINGTON, bbiterkini – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim Presiden China Xi Jinping telah memberikan jaminan bahwa Beijing tidak akan mengirim senjata ke Iran, di tengah meningkatnya ancaman konflik baru di Timur Tengah.
Pernyataan itu disampaikan usai kunjungan diplomatik Trump ke China pekan lalu, ketika Washington masih menekan Teheran agar menerima gencatan senjata permanen di tengah perang yang terus meluas.
“Presiden Xi telah berjanji kepada saya bahwa dia tidak akan mengirimkan senjata apa pun ke Iran. Itu janji yang indah. Saya percaya perkataannya,” kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih, Selasa (19/5/2026), seperti dikutip Al Jazeera.
Presiden AS itu juga menyinggung pentingnya stabilitas Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan energi dunia.
“Xi ingin Selat Hormuz tetap terbuka, sama seperti saya,” ujarnya.
Trump Klaim Xi Tak Kirim Senjata ke Iran
Pernyataan Trump muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran Washington terhadap kedekatan strategis Beijing, Moskow, dan Teheran.
Pada saat bersamaan, Presiden Rusia Vladimir Putin tengah melakukan kunjungan ke China untuk memperkuat kerja sama geopolitik dan pertahanan dengan Beijing. Rusia selama bertahun-tahun diketahui menjadi salah satu pemasok persenjataan utama Iran.
China sendiri memiliki kepentingan besar terhadap stabilitas kawasan Teluk. Beijing selama ini menjadi salah satu pembeli utama minyak Iran dan berkepentingan menjaga Selat Hormuz tetap terbuka, jalur yang dilalui hampir seperlima distribusi minyak dunia.
Meski Trump mengklaim mendapat jaminan langsung dari Xi Jinping, hingga kini belum ada tanda bahwa Beijing akan mengambil peran lebih aktif dalam menekan Iran atau terlibat lebih jauh dalam konflik kawasan.
Diplomasi belum mati, tetapi ancaman perang kini berbicara lebih keras.
Timur Tengah kembali berdiri di tepi jurang konflik yang lebih luas.
AS Beri Iran Tenggat Negosiasi
Tak lama setelah menyinggung pertemuannya dengan Xi Jinping, Trump kembali melontarkan ancaman keras kepada Teheran.
Dalam unggahan media sosialnya, ia mengatakan “waktu terus berjalan” bagi Iran untuk mencapai kesepakatan damai yang lebih permanen di luar jeda konflik yang telah berlangsung sejak 8 April.
Washington sempat menahan opsi operasi militer setelah adanya permintaan dari Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab yang mendorong jalur negosiasi kawasan.
“Negosiasi serius sedang berlangsung saat ini,” katanya.
Namun Gedung Putih menegaskan opsi serangan militer tetap terbuka.
“Saya hanya satu jam lagi dari pengambilan keputusan untuk menyerang hari ini,” ujar Trump.
Ia mengatakan Iran diberi waktu tambahan beberapa hari untuk kembali ke meja perundingan.
“Mungkin Jumat, Sabtu, Minggu, atau awal minggu depan. Tapi waktunya terbatas,” katanya.
Trump bahkan mengisyaratkan bahwa serangan baru masih mungkin dilakukan jika negosiasi gagal menghasilkan kesepakatan.
“Kita mungkin harus memberi mereka pukulan telak lagi. Saya belum yakin,” tambahnya.
Di Washington, ancaman disampaikan lewat podium.
Di Teheran, balasan disiapkan lewat kekuatan militer.
Teheran Ancam Respons Militer
Ancaman Washington langsung direspons keras oleh Teheran.
Ketua Komite Keamanan Nasional Parlemen Iran, Ebrahim Azizi, menilai pernyataan Trump menunjukkan kekhawatiran Amerika Serikat terhadap kemampuan respons militer Iran.
“Trump bukan termotivasi oleh negosiasi, melainkan rasa takut terhadap respons Iran,” kata Azizi seperti dilaporkan media Iran.
Ia memperingatkan bahwa setiap serangan baru Amerika Serikat akan dibalas dengan kekuatan penuh.
“Serangan baru AS berarti menghadapi respons militer yang tegas dan bangsa Iran yang bersatu,” tegasnya.
Sementara itu, kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, melaporkan Teheran telah menyerahkan proposal perdamaian baru berisi 14 poin untuk mengakhiri perang. Namun hingga kini rincian proposal tersebut belum dipublikasikan secara resmi.
Trump membuka lagi opsi serangan.Iran membalas dengan ancaman terbuka.China memilih bicara seperlunya.
Dan dunia kini kembali menyaksikan bagaimana ancaman perang menjadi bahasa paling keras dalam perebutan pengaruh global.
Penulis: Noval Abraham
Editor: Redaksi BBI
