![]() |
| Ilustrasi/AI |
SERANG, bbiterkini – Citra agamis yang selama ini melekat pada seorang kepala desa (kades) di Kabupaten Serang kini diuji. Dugaan skandal yang menyeret namanya justru mencuat pada momen paling sensitif: bulan suci Ramadhan. Kades yang dikenal religius itu diduga terlihat berada di sebuah hotel di Kota Serang bersama seorang wanita muda.
Informasi ini awalnya beredar di kalangan warga, sebelum akhirnya meluas dan menjadi perbincangan panas di media sosial.
Ironi pun tak terelakkan.
Di saat masyarakat berlomba memperkuat ibadah, sosok yang seharusnya menjadi panutan justru diduga melakukan hal yang bertolak belakang dengan nilai yang selama ini ia tampilkan.
Kronologi yang Mengguncang:
Berdasarkan informasi yang berkembang, peristiwa itu disebut terjadi pada salah satu malam di bulan Ramadhan.
Sejumlah warga mengaku melihat langsung kedatangan kades tersebut ke hotel bersama seorang wanita muda.
Keduanya diduga masuk ke dalam kamar dan berada cukup lama di dalamnya. Dari situlah kecurigaan bermula, lalu berkembang menjadi isu besar.
Dari bisik-bisik…
menjadi perbincangan terbuka…
hingga akhirnya viral di media sosial.
Warga Ujung Tebu:
Kepercayaan yang RuntuhWarga Desa Ujung Tebu mengaku terpukul.
Sosok yang selama ini dianggap agamis kini justru terseret dalam dugaan yang dinilai mencoreng nama baik desa.
“Kalau benar, ini bukan hanya soal pribadi. Ini soal kepercayaan yang dikhianati,” ujar salah satu warga.
Kekecewaan itu berubah menjadi kemarahan ketika tidak ada klarifikasi yang muncul ke publik.
Sorotan Tajam ke Pemerintah Kabupaten Serang:
Namun sorotan kini tidak lagi berhenti pada sosok kades semata.
Sikap diam dari Pemerintah Kabupaten Serang justru memantik pertanyaan yang lebih besar: di mana tanggung jawab pengawasan dan ketegasan pemerintah daerah?
Dugaan kedekatan antara kades dengan Bupati Serang semakin memperkuat persepsi publik bahwa ada kemungkinan konflik kepentingan yang membuat persoalan ini berjalan tanpa respons.
Publik mulai mempertanyakan:
Mengapa belum ada klarifikasi resmi?
Mengapa tidak ada langkah awal untuk menelusuri kebenaran?
Apakah etika pejabat desa bukan lagi prioritas pemerintah daerah?
Di media sosial, kritik mengarah langsung ke kepemimpinan daerah.
“Kalau pemerintah diam, berarti membiarkan.”
“Ini ujian kepemimpinan tegas atau kompromi?”
“Jangan sampai ada standar ganda dalam penegakan etika pejabat!”
Krisis Kepercayaan Mulai Terbentuk:
Pengamat menilai, sikap bungkam dalam situasi seperti ini berpotensi menimbulkan krisis kepercayaan.
Dalam tata kelola pemerintahan yang sehat, dugaan pelanggaran oleh pejabat publik semestinya segera direspons, minimal dengan klarifikasi atau langkah verifikasi.
Tanpa itu, ruang publik akan dipenuhi spekulasi.
Dan ketika spekulasi dibiarkan, maka yang runtuh bukan hanya reputasi individu—melainkan kredibilitas institusi.
Tekanan Publik Meningkat:
Warga kini mendesak Pemerintah Kabupaten Serang untuk tidak tinggal diam. Mereka menuntut transparansi dan langkah konkret.
“Kalau memang tidak benar, pemerintah harus berani menjelaskan.”
“Kalau benar, jangan ragu ambil tindakan. Jangan ada kesan dilindungi.”
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari kades maupun Pemerintah Kabupaten Serang.
Diamnya pemerintah kini bukan lagi sekadar sikap pasif—
melainkan telah dibaca publik sebagai bagian dari persoalan itu sendiri.
Di tengah sorotan yang semakin tajam, satu hal yang kini dipertaruhkan bukan hanya nama seorang kades, tetapi juga integritas kepemimpinan di Kabupaten Serang. Dan publik… kini menunggu jawaban.(*/Nababan).
