-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Penyelidikan UNIFIL Sebut Tembakan Tank Israel Penyebab Gugurnya Prajurit TNI

Rabu, 08 April 2026 | 22.15.00 WIB Last Updated 2026-04-08T15:15:06Z


JAKARTA, bbiterkini.com - Dalam surel yang diterima BBC, UNIFIL memaparkan soal temuan sementara mereka atas insiden pada 29 dan 30 Maret 2026. 


"Insiden itu telah merenggut nyawa tiga penjaga perdamaian kami yang pemberani dari Indonesia, Mayor Zulmi Aditya Iskandar, Sersan Satu Muhammad Nur Ichwan, dan Kopral Farizal Rhomadon".


"Kami telah membagikan temuan awal ini kepada pemerintah Indonesia, serta kepada Israel dan Lebanon," tulis surel dari UNIFIL kepada BBC, Selasa, 08 April 2026. 


Insiden 29 Maret


Berdasarkan bukti yang ditemukan, termasuk analisis lokasi dampak dan pecahan proyektil yang ditemukan di posisi PBB 7-1, proyektil tersebut adalah amunisi 120 mm dari meriam tank. 


"Proyektil ini ditembakkan sebuah tank Merkava milik Pasukan Pertahanan Israel dari arah timur, ke arah Ett Taibe," tulis UNIFIL. 


"Perlu diingat bahwa, untuk mengurangi risiko terhadap personel Perserikatan Bangsa-Bangsa, UNIFIL telah memberikan koordinat seluruh posisi dan fasilitasnya kepada Pasukan Pertahanan Israel pada 6 Maret dan 22 Maret".


Insiden 30 Maret


Berdasarkan bukti yang tersedia termasuk analisis lokasi ledakan, kendaraan yang terdampak, serta temuan alat peledak rakitan (improvised explosive device/IED) kedua di sekitar lokasi pada hari yang sama ledakan tersebut disebabkan oleh IED yang diaktifkan oleh korban melalui kawat atau tali tipis (tripwire) yang dipasang secara tersembunyi dan diaktifkan oleh suatu pergerakan. 


"Penyelidikan menilai bahwa, berdasarkan lokasi insiden, sifat ledakan, dan konteks saat ini, IED tersebut kemungkinan besar dipasang oleh Hizbullah," tulis surel UNIFIL. 


Dua insiden pada 29 Maret dan 30 Maret juga melukai sejumlah prajurit TNI. 


Insiden pada 29 Maret mencederai tiga prajurit, yakni Praka Rico Pramudia, Praka Bayu Prakoso, dan Praka Arif Kurniawan. 


Insiden pada 30 Maret melukai dua prajurit, yakni Lettu (Inf) Sulthan Wirdean Maulana dan Praka Deni Rianto. 


Ada pula insiden 3 April yang mencederai tiga prajurit TNI. Namun, belum diketahui penyebab insiden ketiga itu. 


UNIFIL menegaskan bahwa hasil penyelidikan insiden 29 dan 30 Maret "adalah temuan awal". 


"Proses investigasi penuh oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) masih berlangsung, termasuk pelaksanaan prosedur yang diwajibkan serta keterlibatan dengan para pihak terkait untuk memahami secara menyeluruh konteks dan keadaan insiden tersebut di tengah berlanjutnya permusuhan. Selain itu, Dewan Penyelidikan akan dibentuk untuk kedua kasus tersebut, sesuai dengan prosedur PBB yang telah ditetapkan," jelas UNIFIL. 


Dalam pesan terakhir, kelompok pasukan perdamaian di bawah PBB ini kembali mengutarakan duka cita terdalam kepada "keluarga para penjaga perdamaian yang gugur dan kepada pemerintah Indonesia". 


"Insiden-insiden ini tidak dapat diterima. Kami telah meminta kepada pihak-pihak terkait agar kasus-kasus ini diselidiki dan dituntut oleh otoritas nasional untuk membawa para pelaku ke pengadilan dan memastikan pertanggungjawaban pidana atas kejahatan terhadap penjaga perdamaian". 


"Serangan terhadap penjaga perdamaian PBB dapat merupakan kejahatan perang menurut hukum internasional. Semua pihak harus mematuhi kewajiban mereka untuk memastikan keselamatan dan keamanan penjaga perdamaian setiap saat. Kekebalan instalasi PBB harus dihormati". (*/red)