![]() |
| Mall Pelayanan Publik Kabupaten Serang |
Serang, bbiterkini – Gelombang sorotan publik kian membesar. Di tengah mencuatnya dugaan bobroknya fasilitas UPT Dukcapil Cikande, Kepala Dinas Dukcapil Kabupaten Serang, Warnerry Poetri, SH., M.Si., justru memilih diam seribu bahasa.
Sejak isu ini mencuat pada Kamis (2/4/2026), hingga kini tak ada satu pun klarifikasi resmi. Upaya konfirmasi yang dilakukan awak media dari pesan WhatsApp hingga mendatangi langsung kantor dinas berakhir tanpa jawaban.
Lebih dari satu jam menunggu, namun sang Kepala Dinas tak kunjung menemui. Sikap ini memicu persepsi liar di tengah publik: ada apa di balik bungkamnya pejabat?
Sementara itu, kondisi di lapangan memantik kemarahan. UPT Dukcapil Cikande disebut-sebut dalam kondisi memalukan toilet rusak, air bersih tak tersedia. Fasilitas dasar yang seharusnya menjadi standar pelayanan justru tak terpenuhi.
Ini bukan sekadar kelalaian. Ini menyangkut hak dasar masyarakat yang diduga diabaikan.
Lebih mengejutkan lagi, beredar informasi bahwa sejak menjabat pada awal 2024, Kepala Dinas diduga belum pernah turun langsung ke sejumlah UPT, termasuk di Cikande dan Jawilan. Jika benar, maka patut dipertanyakan: bagaimana pengawasan dijalankan?
Ketua LSM MAPPAK Banten, Ely Jaro, angkat bicara dengan nada keras.
“Kalau benar seperti ini, ini bukan hanya buruk—ini memalukan. Pelayanan publik dipertaruhkan, tapi pimpinan justru diam. Ini tidak bisa dibiarkan,” tegasnya.
Ia juga menyinggung potensi pelanggaran serius.
“Undang-undang jelas mengatur kewajiban pelayanan yang layak. Kalau itu tidak dipenuhi, maka ini patut diduga sebagai pelanggaran. Harus ada yang bertanggung jawab,” lanjutnya.
Sorotan kini tak hanya tertuju pada fasilitas rusak, tetapi juga pada sikap bungkam yang dinilai mencederai prinsip transparansi. Publik mulai bertanya lebih jauh: apakah ini sekadar kelalaian, atau ada sesuatu yang lebih besar yang belum terungkap?
Hingga berita ini diterbitkan, Kepala Dinas Dukcapil Kabupaten Serang masih belum memberikan tanggapan. Satu hal yang pasti—isu ini kian panas, dan tekanan publik terus meningkat.(*/red).
