Kota Serang, bbiterkini – sebagai ibu kota Provinsi Banten, kini menghadapi berbagai dinamika sosial yang menarik untuk dipelajari. Jika kita melihatnya dari perspektif teori Barat, khususnya yang menekankan modernitas dan perubahan sosial, kita bisa menemukan bagaimana konsep-konsep tersebut bertemu dengan tradisi lokal yang sudah lama melekat di masyarakat.
Banyak teori Barat menganggap modernitas sebagai proses perubahan yang membawa kemajuan melalui rasionalitas, individualisme, dan teknologi. Namun, di Serang, nilai-nilai tradisional seperti gotong royong, kekeluargaan, dan norma adat masih menjadi landasan kuat dalam kehidupan sehari-hari. Ini menimbulkan ketegangan sekaligus peluang dalam proses pembangunan dan sosial masyarakat.
Misalnya, upaya modernisasi kota dan pembangunan infrastruktur terus berjalan, tapi sering kali harus disesuaikan dengan ketentuan adat dan aspirasi masyarakat lokal. Pendekatan yang kaku dari teori Barat yang mengedepankan perubahan cepat kadang bertabrakan dengan cara hidup masyarakat yang menghargai stabilitas dan keterikatan sosial.
Kota Serang menunjukkan bagaimana teori Barat tentang modernitas tidak bisa diterapkan secara mentah-mentah, tapi perlu diintegrasikan dengan budaya lokal agar pembangunan yang terjadi lebih berkelanjutan dan diterima oleh masyarakat luas. Di sinilah pentingnya pemahaman lintas budaya dalam merancang kebijakan dan program pembangunan.
Dengan menghargai tradisi sambil mengadaptasi aspek modernitas yang bermanfaat, Kota Serang berpeluang menjadi contoh harmonisasi antara nilai lama dan tuntutan zaman baru. Ini bukan hanya soal mengikuti teori Barat, tapi bagaimana teori itu dapat disesuaikan agar relevan dan memperkuat identitas lokal dalam proses pembangunan.
Oleh: Lisha Rosmalia, Angga Rosidin, S.I.P.,M.A.P., Zakaria Habib Al-Ra’zie, S.I.P.,M.Sos.
Program Studi Administrasi Negara, Universitas Pamulang (UNPAM) Kampus Serang.(*/red)
