BREAKING NEWS

Sulap Sampah Daun Kering Jadi Tinta Ramah Lingkungan, UNPAM Gandeng Warisan Bumi Indonesia

Sumber Dokumentasi Tim Pengabdi

SERANG, 15 Agustus 2026 - Upaya mengurangi sampah sekaligus menciptakan inovasi ramah lingkungan terus dilakukan melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat. Universitas Pamulang (UNPAM) Kampus Serang bersama Komunitas Warisan Bumi Indonesia mengembangkan pemanfaatan sampah daun kering menjadi tinta ramah lingkungan melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) yang didanai oleh Program Bima Kemendiktisaintek Tahun 2026.

Program yang mengangkat tema “Implementasi Kebijakan Circular Economy di Kota Serang melalui Inovasi Tinta dari Sampah Daun Kering Berbasis Digital” tersebut diarahkan untuk memperkenalkan praktik ekonomi sirkular di tingkat komunitas.

Melalui program ini, sampah daun kering yang sebelumnya cenderung dikumpulkan, dibakar, atau dibuang diarahkan untuk memiliki nilai guna baru. Tim pelaksana memberikan pendampingan kepada mitra mulai dari pengelolaan bahan baku, proses pengolahan, hingga pemanfaatan hasil produksi.

Ketua tim PKM, Syarkawi, mengatakan bahwa persoalan sampah membutuhkan pendekatan yang lebih inovatif dan partisipatif. Menurutnya, masyarakat perlu didorong untuk melihat sampah bukan hanya sebagai material yang harus disingkirkan, tetapi juga sebagai sumber daya yang masih dapat dimanfaatkan.

“Melalui kegiatan ini, kami mencoba menghadirkan contoh sederhana penerapan ekonomi sirkular di tingkat masyarakat. Daun kering yang selama ini dianggap tidak bernilai dapat diolah menjadi produk yang bermanfaat sekaligus menjadi sarana edukasi lingkungan,” ujarnya.

Libatkan Komunitas Lingkungan

Pelaksanaan program melibatkan Komunitas Warisan Bumi Indonesia sebagai mitra masyarakat. Komunitas yang bergerak dalam bidang konservasi dan edukasi lingkungan tersebut memiliki jejaring relawan serta pengalaman dalam kegiatan pengelolaan lingkungan di Kota Serang.

Kolaborasi dengan komunitas menjadi bagian penting dalam program karena inovasi yang dikembangkan tidak hanya ditujukan untuk menghasilkan produk, tetapi juga meningkatkan kapasitas masyarakat.

Tim PKM dan mitra bersama-sama mengidentifikasi persoalan pengelolaan sampah daun kering, menyusun tahapan kegiatan, serta merancang model pengelolaan yang dapat diterapkan secara berkelanjutan.

Dalam program tersebut, pengelolaan sampah dirancang melalui tahapan yang terintegrasi, mulai dari pengumpulan, pemilahan, pengeringan, penghalusan, ekstraksi warna alami, formulasi tinta, hingga pengemasan.

Proses tersebut juga diarahkan untuk memiliki standar operasional prosedur sehingga dapat dilakukan secara lebih terukur dan konsisten.

Tidak Sekadar Menghasilkan Tinta

Inovasi tinta dari daun kering menjadi salah satu bentuk penerapan teknologi dan pengetahuan perguruan tinggi yang dapat langsung dimanfaatkan masyarakat.

Produk yang dikembangkan tidak semata-mata diarahkan sebagai produk komersial. Tinta ramah lingkungan tersebut juga dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran, kegiatan seni dan kreativitas, serta sarana kampanye mengenai pentingnya pengelolaan sampah.

Dengan demikian, hasil inovasi dapat digunakan untuk memperkenalkan konsep circular economy kepada masyarakat melalui pendekatan yang lebih praktis.

Program PKM juga menargetkan peningkatan kemampuan anggota komunitas dalam melakukan produksi secara mandiri. Salah satu indikator yang dirancang adalah kemampuan sekitar 85 persen anggota mitra untuk memahami dan menjalankan proses produksi tinta ramah lingkungan, disertai penyusunan SOP produksi dan pengembangan produksi secara rutin.

Pengelolaan Sampah Mulai Berbasis Digital

Hal lain yang membedakan program ini adalah integrasi teknologi digital dalam pengelolaan kegiatan. Pencatatan mengenai sampah yang dikumpulkan, proses produksi, hasil pengolahan, serta dokumentasi kegiatan diarahkan menggunakan sistem digital sederhana. Pemanfaatan formulir dan spreadsheet daring memungkinkan kegiatan komunitas terdokumentasi secara lebih sistematis.

Menurut Syarkawi, digitalisasi diperlukan agar aktivitas pengelolaan lingkungan tidak hanya berjalan berdasarkan kegiatan lapangan, tetapi juga memiliki data yang dapat digunakan untuk evaluasi.

“Digitalisasi membantu komunitas mengetahui apa yang sudah dilakukan, berapa banyak bahan yang dikelola, serta bagaimana perkembangan kegiatan dari waktu ke waktu. Jadi, data menjadi bagian dari tata kelola lingkungan,” jelasnya.

Pendekatan tersebut sekaligus diharapkan dapat meningkatkan transparansi dan akuntabilitas kegiatan komunitas.

Dorong Perubahan di Tingkat Lokal

Program pemberdayaan ini berangkat dari persoalan bahwa pengelolaan sampah daun kering di tingkat komunitas belum sepenuhnya terintegrasi. Pemanfaatannya masih terbatas dan belum didukung sistem pencatatan digital yang memadai.

Karena itu, program tidak hanya memberikan pelatihan teknis, tetapi juga membangun model pengelolaan sampah yang menghubungkan aspek lingkungan, pemberdayaan masyarakat, inovasi produk, dan teknologi digital.

Dalam kerangka yang lebih luas, kegiatan tersebut sejalan dengan upaya mendorong implementasi ekonomi sirkular di Kota Serang. Prinsip utamanya adalah mengurangi pembuangan material yang masih dapat dimanfaatkan sekaligus menciptakan nilai baru dari sumber daya yang tersedia di lingkungan masyarakat.

Program ini juga berkaitan dengan agenda pembangunan berkelanjutan, khususnya SDG 11 mengenai kota dan permukiman berkelanjutan serta SDG 12 mengenai konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab.

Diharapkan Menjadi Praktik yang Berkelanjutan

UNPAM dan Warisan Bumi Indonesia berharap kegiatan tersebut tidak berhenti setelah program PKM selesai. Pendampingan diarahkan agar komunitas memiliki kemampuan untuk melanjutkan proses pengelolaan sampah dan produksi tinta secara mandiri.

Keberlanjutan menjadi penting karena tujuan utama program bukan sekadar menghasilkan produk pada saat kegiatan berlangsung, melainkan membangun kapasitas masyarakat dan model pengelolaan lingkungan yang dapat diterapkan secara berulang.

Jika dapat dikembangkan secara konsisten, inovasi ini berpotensi menjadi salah satu contoh praktik pengelolaan sampah berbasis komunitas yang dapat direplikasi di lingkungan masyarakat lainnya.

Kolaborasi UNPAM dengan Warisan Bumi Indonesia sekaligus memperlihatkan bahwa penyelesaian persoalan lingkungan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Perguruan tinggi, komunitas, dan masyarakat memiliki ruang yang sama untuk berkontribusi melalui inovasi dan aksi nyata.

Dari sampah daun kering, lahir sebuah gagasan sederhana: mengurangi limbah, meningkatkan kapasitas masyarakat, sekaligus memperkenalkan ekonomi sirkular melalui produk yang ramah lingkungan.


Penulis: Elfan

Editor: Noval Abraham 

Pilihan Redaksi

Trending Hari Ini