BREAKING NEWS

Piala Dunia 2026 Terancam Tak Bisa Ditonton Gratis di Tiga Daerah Sulsel, Hampir 1 Juta Warga Terdampak

Ilustrasi warga menonton pertandingan sepak bola melalui televisi di wilayah pedesaan.

MAKASSAR, BBITerkini – Euforia menyambut Piala Dunia FIFA 2026 terancam tidak dirasakan secara merata oleh masyarakat di Sulawesi Selatan. Sebanyak 909.846 warga di Kabupaten Toraja Utara, Soppeng, dan Wajo berpotensi kehilangan akses siaran gratis melalui televisi digital karena wilayah mereka masuk kategori blank spot atau area yang belum terjangkau siaran televisi digital secara optimal.

Kondisi tersebut membuat masyarakat maupun pelaku usaha yang ingin menggelar nonton bareng (nobar) harus menggunakan perangkat penerima siaran khusus melalui paket komersial berbayar dari pemegang hak siar resmi.

PIC Nobar Piala Dunia 2026 wilayah Sulawesi Selatan, Firmansyah Syaiful, mengatakan perangkat Set Top Box (STB) yang umum digunakan masyarakat untuk menangkap siaran televisi digital tidak dapat menjadi solusi bagi wilayah yang masuk kategori blank spot.

“Jadi ada tiga daerah yang masuk kategori blank spot, yakni Toraja Utara, Soppeng, dan Sengkang (Wajo),” kata Firmansyah, dikutip dari Tribun Timur, Jumat (5/6/2026).

Menurutnya, masyarakat di luar tiga wilayah tersebut masih dapat menikmati pertandingan melalui antena digital maupun parabola gratis yang menjangkau siaran resmi. Namun situasi berbeda terjadi di wilayah yang tidak tercover siaran televisi digital terestrial.

Apa Itu Blank Spot?

Blank spot merupakan wilayah yang tidak terjangkau sinyal siaran televisi digital secara optimal. Dalam kondisi ini, masyarakat tidak dapat menerima tayangan televisi hanya dengan mengandalkan antena digital maupun perangkat STB biasa.

Karena keterbatasan infrastruktur penyiaran tersebut, warga di wilayah blank spot harus menggunakan perangkat receiver khusus yang terhubung dengan layanan berlangganan atau paket komersial resmi.

“Jika masyarakat yang masuk dalam tiga daerah blank spot ingin melaksanakan nobar, harus memasang receiver khusus atau membayar paket komersial untuk dipasangkan receiver,” ujar Firmansyah.

Receiver berbeda dengan STB. Jika STB berfungsi mengubah sinyal digital agar dapat diterima televisi, receiver khusus bekerja melalui sistem layanan berlangganan yang terhubung langsung dengan penyedia siaran resmi.

Hampir Satu Juta Penduduk Berpotensi Terdampak

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk di tiga daerah tersebut mencapai angka yang cukup besar.

Kabupaten Toraja Utara memiliki jumlah penduduk sekitar 266.513 jiwa, Kabupaten Soppeng 241.333 jiwa, dan Kabupaten Wajo sekitar 402.000 jiwa.

Jika dijumlahkan, total penduduk yang berpotensi terdampak mencapai 909.846 jiwa atau hampir satu juta orang.

Besarnya jumlah warga yang terdampak menunjukkan bahwa persoalan akses siaran bukan sekadar masalah teknis penyiaran, tetapi juga menyangkut pemerataan akses informasi dan hiburan publik terhadap salah satu ajang olahraga terbesar di dunia.

Pecinta Sepak Bola Khawatir Antusiasme Menurun

Kondisi tersebut mendapat perhatian dari kalangan pecinta sepak bola di Toraja Utara. Pelatih SSB Bintang Toraja Junior, Timotius, menilai keterbatasan akses siaran dapat mengurangi antusiasme masyarakat dalam menyambut pesta sepak bola empat tahunan tersebut.

Menurutnya, apabila fasilitas nobar tersedia sekalipun, kemungkinan besar hanya akan terpusat di kawasan perkotaan sehingga masyarakat yang tinggal di daerah pelosok tetap kesulitan menikmati pertandingan.

“Warga Toraja Utara sangat menyukai sepak bola. Kalau pun ada fasilitas nobar, kemungkinan hanya terpusat di kawasan kota. Bagaimana dengan masyarakat yang tinggal di pelosok?” katanya.

Ia berharap pemerintah maupun pihak terkait dapat menghadirkan fasilitas nobar yang menjangkau lebih banyak warga sehingga seluruh masyarakat dapat menikmati pertandingan secara bersama-sama.

Pemkab Toraja Utara Akan Koordinasi dengan Komdigi

Menanggapi informasi tersebut, Bupati Toraja Utara Frederik Victor Palimbong mengaku telah menerima informasi mengenai keterbatasan jangkauan siaran televisi terestrial di wilayahnya.

Meski demikian, ia memastikan akan melakukan pengecekan lebih lanjut kepada pihak terkait guna memastikan kondisi tersebut sekaligus mencari kemungkinan solusi yang dapat diberikan kepada masyarakat.

“Secara teknis memang Toraja Utara berada di luar jangkauan siaran terestrial atau siaran yang diterima menggunakan antena biasa. Sejauh ini alternatif yang tersedia melalui layanan OTT berbayar,” ujarnya.

Frederik mengatakan Pemerintah Kabupaten Toraja Utara akan berkoordinasi dengan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) untuk memperoleh kepastian informasi sekaligus membahas langkah yang dapat dilakukan.

“Nanti saya coba cek sekali lagi melalui teman-teman di Komdigi yang menangani bidang penyiaran televisi,” katanya.

Selain melakukan koordinasi, pemerintah daerah juga berencana mengusulkan penyediaan fasilitas nobar resmi yang dapat dimanfaatkan masyarakat selama Piala Dunia 2026 berlangsung.

Senada dengan itu, Wakil Bupati Toraja Utara Andrew Branch Silambi mengaku baru mengetahui informasi tersebut dan akan mempelajarinya lebih lanjut.

“Kalau benar masyarakat tidak bisa menonton siaran gratis, tentu sangat disayangkan. Penggemar sepak bola di Toraja Utara sangat banyak,” ujarnya.

Piala Dunia Terbesar Sepanjang Sejarah

Piala Dunia FIFA 2026 akan menjadi turnamen terbesar sepanjang sejarah penyelenggaraannya. Untuk pertama kalinya, kompetisi ini akan diikuti oleh 48 negara peserta, meningkat dari format sebelumnya yang hanya melibatkan 32 tim.

Turnamen akan berlangsung di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko dengan total 104 pertandingan sepanjang Juni hingga Juli 2026.

Jumlah pertandingan yang jauh lebih banyak dibanding edisi sebelumnya membuat kebutuhan akses siaran menjadi semakin penting. Karena itu, persoalan blank spot di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan kini menjadi perhatian agar masyarakat dapat menikmati pesta sepak bola dunia tersebut secara lebih merata tanpa terkendala keterbatasan akses siaran.


Penulis: Dessy

Editor: Noval Abraham

Pilihan Redaksi

Trending Hari Ini