Anak Gagal Ikut Ujian Akibat Kebakaran Kemayoran, Seluruh Peralatan Sekolah Ludes Terbakar
![]() |
| Seorang warga menyusuri puing-puing bangunan pascakebakaran di Kebon Kosong, Kemayoran, Jakarta Pusat. |
JAKARTA, BBITerkini – Musibah kebakaran yang melanda kawasan RW 04 Kebon Kosong, Gang Masjid, Kecamatan Kemayoran, Jakarta Pusat, pada Senin (1/6/2026) malam, menyisakan duka mendalam bagi ratusan keluarga terdampak.
Di balik hangusnya rumah-rumah warga, terdapat kisah pilu yang dialami seorang pelajar sekolah menengah pertama (SMP) yang terancam tidak dapat mengikuti ujian sekolah karena seluruh perlengkapan belajarnya ikut terbakar.
Reni, salah seorang warga terdampak, mengaku anaknya yang saat ini duduk di bangku kelas VII SMP kehilangan seluruh seragam, buku, hingga alat tulis akibat kebakaran yang melahap permukiman padat penduduk tersebut.
Saat ditemui di lokasi pengungsian sementara, Selasa (2/6/2026), Reni mengatakan keluarganya hanya sempat menyelamatkan dokumen-dokumen penting sebelum api membesar dan menghanguskan rumah mereka.
“Alat tulis kebakar semua. Kita tidak bawa apa-apa. Baju sekolah dan peralatan sekolah juga terbakar semua. Kita cuma bawa surat-surat penting saja,” ujarnya.
Kondisi tersebut membuat sang anak terpaksa menunda aktivitas sekolahnya. Padahal dalam waktu dekat ia dijadwalkan mengikuti ujian.
Reni mengaku prihatin melihat kondisi anaknya yang harus menghadapi kenyataan pahit di tengah masa sekolah. Menurutnya, musibah yang datang secara tiba-tiba membuat keluarga belum memiliki kepastian untuk kembali beraktivitas normal.
“Lagi keadaan seperti ini bagaimana mau sekolah. Anak sebenarnya mau ujian, tapi terhambat karena musibah seperti ini,” katanya.
Meski demikian, Reni telah berkomunikasi dengan pihak sekolah untuk menjelaskan kondisi yang sedang dialami keluarganya. Ia berharap sekolah dapat memberikan kebijakan khusus berupa kesempatan mengikuti ujian susulan.
“Kita sudah menghubungi guru dan minta toleransi. Mudah-mudahan nanti bisa ikut ujian susulan,” ujarnya.
Bertahan di Tengah Musibah
Bagi Reni, kebakaran ini bukan hanya soal kehilangan tempat tinggal dan barang berharga. Ia juga harus memikirkan masa depan pendidikan anaknya yang kini terganggu akibat bencana tersebut.
Perempuan yang mengaku telah tinggal sejak kecil di kawasan Kebon Kosong itu mengatakan tidak memiliki keinginan untuk meninggalkan lingkungan tempat tinggalnya meskipun musibah kebakaran kembali terjadi.
Menurutnya, warga hanya berharap mendapat bantuan untuk membangun kembali rumah yang hangus terbakar agar kehidupan mereka bisa kembali berjalan normal.
“Kalau keinginan pindah tidak ada karena sudah nyaman tinggal di sini. Harapannya tempat yang tadinya tidak layak bisa diperbaiki dan dibangun kembali,” tuturnya.
Ia juga berharap pemerintah dan pihak terkait dapat membantu warga yang kehilangan tempat tinggal agar dapat segera bangkit dari musibah tersebut.
Ratusan Keluarga Terdampak
Sementara itu, Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Pol Reynold Tutagalung memperkirakan jumlah warga yang terdampak kebakaran mencapai antara 400 hingga 500 kepala keluarga (KK).
Jumlah tersebut berdasarkan data sementara yang diperoleh dari pengurus lingkungan setempat.
“Kurang lebih sekitar 400 sampai 500 KK berdasarkan keterangan dari Ketua RW,” kata Reynold saat meninjau lokasi kebakaran pada Senin malam.
Besarnya jumlah korban terdampak menunjukkan skala kebakaran yang cukup serius di kawasan permukiman padat tersebut. Hingga kini, sejumlah warga masih bertahan di lokasi pengungsian sambil menunggu pendataan dan bantuan dari pemerintah.
Terkait penyebab kebakaran, Reynold menegaskan pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan. Proses investigasi akan dilakukan bersama petugas pemadam kebakaran dan tim Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Polri.
“Kami akan melakukan penyelidikan bersama stakeholder terkait, baik dari kepolisian maupun petugas damkar untuk mengetahui penyebab pasti kebakaran,” ujarnya.
Hingga Selasa pagi, proses pendataan korban dan penanganan pascakebakaran masih terus berlangsung. Selain kehilangan tempat tinggal, banyak warga juga kehilangan dokumen, peralatan rumah tangga, hingga kebutuhan pendidikan anak-anak yang ikut hangus dilalap api.
Musibah ini menjadi pengingat bahwa di balik setiap kebakaran besar, terdapat cerita perjuangan warga yang harus memulai kembali kehidupan mereka dari nol, termasuk anak-anak yang terpaksa menunda cita-cita dan pendidikan akibat bencana yang datang tanpa peringatan.
Penulis: Ropiin
Editor: Noval Abraham
