Trump Tegaskan AS Belum Akan Longgarkan Tekanan ke Iran, Selat Hormuz Masih Diperketat
![]() |
| Trump menegaskan AS belum akan melonggarkan tekanan terhadap Iran meski negosiasi pembukaan Selat Hormuz terus berjalan. |
WASHINGTON, bbiterkini — Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menegaskan Washington belum ingin terburu-buru mencapai kesepakatan dengan Iran terkait pembukaan jalur strategis Selat Hormuz.
Dalam unggahan terbarunya di Truth Social pada Minggu (24/5), Trump memastikan kebijakan pengetatan terhadap kapal-kapal Iran di Selat Hormuz masih akan tetap diberlakukan hingga seluruh proses negosiasi selesai dan disahkan secara resmi.
“Kedua belah pihak harus meluangkan waktu dan melakukannya dengan benar,” tulis Trump, dikutip Reuters.
Pernyataan tersebut menunjukkan Amerika Serikat masih mempertahankan tekanan diplomatik terhadap Teheran meski komunikasi kedua negara terus berjalan dalam beberapa pekan terakhir.
Media Iran, Tasnim, melaporkan bahwa hingga kini masih terdapat sejumlah poin krusial yang belum menemui titik temu. Salah satunya terkait permintaan Iran agar dana mereka yang dibekukan dapat dicairkan kembali.
Sebelumnya, Trump sempat mengklaim bahwa Washington dan Teheran telah mencapai sebagian besar kesepahaman mengenai upaya membuka akses Selat Hormuz serta menjaga stabilitas kawasan Teluk.
Namun seorang pejabat senior pemerintahan AS menyebut kesepakatan final belum akan ditandatangani dalam waktu dekat karena proses negosiasi dinilai belum bergerak cukup cepat.
Menurut pejabat tersebut, Iran sejauh ini baru menyetujui kerangka kesepakatan “secara prinsip” sebagai imbalan atas kemungkinan pelonggaran kebijakan AS. Sementara pembahasan teknis, terutama yang berkaitan dengan isu nuklir, masih membutuhkan waktu tambahan.
Sumber lain di pemerintahan AS menyebut Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, disebut telah mendukung kerangka umum kesepakatan tersebut.
Dalam rancangan awal yang dibahas kedua pihak, para negosiator disebut akan diberi waktu sekitar 60 hari guna merampungkan kesepakatan akhir.
Di tengah proses itu, tekanan politik terhadap Trump juga meningkat akibat dampak konflik kawasan terhadap sektor energi global. Ketidakpastian pasokan minyak ikut mendorong kenaikan harga energi dan memperbesar kekhawatiran pasar internasional.
Trump juga terus menyoroti peluang tercapainya kesepakatan untuk meredakan eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang memanas sejak akhir Februari lalu.
Pengamat internasional menilai kesepakatan yang mampu memperkuat gencatan senjata akan membawa sentimen positif bagi pasar global. Meski begitu, langkah tersebut diperkirakan belum cukup untuk langsung meredakan krisis energi dunia yang dalam beberapa bulan terakhir menekan harga energi, rantai pasok pangan, hingga stabilitas ekonomi global.
Penulis: Arohman Ali
Editor: Redaksi BBI
