Program Konservasi DAS Cidanau Kembali Jalan, Andra Soni Soroti Masa Depan Air Banten
![]() |
| PJLH DAS Cidanau kembali berjalan demi menjaga pasokan air Cilegon dan kawasan industri Banten. |
BANTEN, bbiterkini –Pemerintah Provinsi Banten kembali melanjutkan Program Pembayaran Jasa Lingkungan Hidup (PJLH) DAS Cidanau sebagai langkah menjaga keberlanjutan sumber air bagi masyarakat dan kawasan industri di wilayah barat Banten.
Gubernur Banten Andra Soni menyaksikan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara PT Krakatau Tirta Industri (KTI), Forum Komunikasi DAS Cidanau (FKDC), dan Perum Jasa Tirta II (PJT II) di Excellence Center PT KTI, Kota Cilegon, Jumat (22/5/2026).
Program tersebut menjadi kelanjutan upaya konservasi kawasan Rawa Danau dan daerah tangkapan air DAS Cidanau yang telah berlangsung selama puluhan tahun.
“Ini merupakan kelanjutan kerja sama konservasi yang sudah berjalan lama antara masyarakat di kawasan hulu dan industri pengguna air di wilayah hilir,” kata Andra Soni.
Program PJLH DAS Cidanau sempat mengalami masa jeda pada 2024 menyusul penyesuaian regulasi pengelolaan sumber daya air. Kini, program kembali dijalankan melalui kolaborasi pemerintah, industri, dan masyarakat untuk menjaga kelestarian kawasan hulu.
Skema pembayaran jasa lingkungan itu dilakukan oleh pihak pengguna air di hilir kepada masyarakat penjaga kawasan hulu melalui kegiatan konservasi dan perlindungan daerah tangkapan air.
Dalam program tersebut, kelompok tani hutan mendapat dukungan untuk mempertahankan tutupan lahan, menjaga pohon, serta memastikan kawasan resapan air tetap lestari.
DAS Cidanau sendiri menjadi salah satu sumber air baku utama bagi Kota Cilegon dan kawasan industri di sekitarnya. Kawasan itu juga terhubung dengan Cagar Alam Rawa Danau yang memiliki fungsi penting sebagai penyimpan cadangan air alami di Banten bagian barat.
Di tengah meningkatnya kebutuhan air industri dan pertumbuhan penduduk di Kota Cilegon, keberlangsungan kawasan hulu DAS Cidanau dinilai menjadi penentu ketahanan air jangka panjang.
“Kita sadar kebutuhan air baku di Cilegon sangat besar. Karena itu daerah tangkapan air harus dijaga agar tetap berkelanjutan,” ujarnya.
Andra menegaskan keterlibatan masyarakat menjadi faktor penting dalam menjaga kelestarian DAS Cidanau. Menurutnya, konservasi tidak akan berjalan tanpa peran warga yang selama ini menjaga kawasan hulu.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Direktur PT Krakatau Tirta Industri, Dendin Hermawan mengatakan program PJLH DAS Cidanau telah menjadi salah satu model konservasi berbasis kolaborasi yang dijadikan referensi nasional.
“Program pembayaran jasa lingkungan ini bahkan menjadi salah satu referensi yang dibawa Bappenas sebagai percontohan di Indonesia,” kata Dendin.
Ia menjelaskan, PT KTI memanfaatkan aliran Sungai Cidanau sebagai sumber air baku sebelum bermuara ke laut. Air berasal dari kawasan hulu DAS Cidanau, mengalir menuju Rawa Danau dan Sungai Cidanau sebelum dimanfaatkan masyarakat dan industri.
Menurut Dendin, program sempat mengalami penyesuaian setelah terbitnya aturan mengenai Biaya Jasa Pengelolaan Sumber Daya Air (BJP SDA). Namun melalui dukungan Pemprov Banten, program akhirnya kembali dilanjutkan pada 2026.
“Alhamdulillah, atas dorongan Pak Gubernur dan bantuan Pemprov Banten, program PJLH DAS Cidanau kembali berjalan,” ujarnya.
Di sisi lain, Sekretaris Jenderal FKDC, NP Rahadian menyebut program tersebut saat ini melibatkan 12 Kelompok Tani Hutan (KTH) dengan total lahan konservasi mencapai 300 hektare.
Sebanyak 650 petani turut terlibat menjaga kawasan DAS Cidanau yang memiliki luas sekitar 22.620 hektare.
Rahadian menegaskan tanaman yang dipertahankan dalam program itu merupakan tanaman dengan fungsi ekologis dan jasa lingkungan, bukan tanaman cepat tebang seperti sengon atau albasia.
“Tanaman yang dijaga adalah tanaman yang menghasilkan jasa lingkungan dan menjaga keberlanjutan kawasan,” katanya.
Keberlanjutan DAS Cidanau kini bukan sekadar persoalan konservasi lingkungan. Kawasan itu menjadi penyangga utama pasokan air bagi masyarakat dan industri di Banten bagian barat yang terus berkembang dari tahun ke tahun.
Penulis: David Nababan
Editor: Arohman Ali
