-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

China Sebut AS dan Israel Biang Kerok Masalah di Jalur Perdagangan Minyak Selat Hormuz

Jumat, 03 April 2026 | 10.45.00 WIB Last Updated 2026-04-03T03:45:46Z
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning. 


JAKARTA, bbiterkini.com - China mengingatkan bahwa serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran merupakan akar penyebab blokade terhadap Selat Hormuz. 


Hal itu disampaikan setelah Presiden AS Donald Trump menyerukan negara-negara yang terdampak pemblokiran Selat Hormuz untuk merebut jalur perairan strategis itu. 


"Akar penyebab gangguan navigasi melalui Selat Hormuz adalah operasi militer ilegal Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran," ujar Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, dalam Konferensi Pers, seperti dilansir AFP, Kamis, 02 April 2026. 


Mao menjawab pertanyaan wartawan saat ditanyai soal seruan terbaru Trump tersebut. 


Dalam pidatonya di Gedung Putih pada Rabu malam, 01 April 2026, Trump mengatakan bahwa negara-negara di dunia yang menerima minyak melalui Selat Hormuz harus menjaga jalur tersebut. 


"Kita akan membantu, tetapi mereka harus memimpin dalam melindungi minyak yang sangat mereka andalkan," ujar Trump dalam pidatonya. 


Trump bahkan mendesak negara-negara yang bergantung pada Selat Hormuz untuk "rebut saja, lindungi, gunakan untuk diri Anda sendiri". 


Dia juga mengklaim bahwa Selat Hormuz akan dibuka kembali secara alami setelah perang berakhir, dan bahwa harga gas akan segera turun kembali -- pernyataan yang, menurut CNN, telah dibantah oleh para ekonom dan analis. 


Selat Hormuz, yang merupakan jalur perairan strategis untuk pasokan minyak dan gas global, terdampak oleh perang berkelanjutan antara AS dan Israel melawan Iran. 


Aktivitas perlintasan di jalur perairan penting itu telah secara efektif dibatasi sejak awal Maret lalu. 


Hal tersebut memicu gangguan global yang meningkatkan biaya pengiriman dan mendorong harga minyak global lebih tinggi. 


Sementara China merupakan pembeli utama minyak Iran, yang sebagian besar melewati Selat Hormuz. 


Penutupan jalur perairan vital itu menyebabkan harga minyak global melonjak 40-50 persen, mempengaruhi industri-industri utama, khususnya sektor penerbangan. 


Beberapa maskapai penerbangan China, termasuk maskapai nasional Air China mengatakan, mereka akan menaikkan biaya tambahan bahan bakar pada penerbangan domestik mulai Minggu (5/3) mendatang karena perang di Timur Tengah mendorong kenaikan harga minyak. 


Mao, dalam Konferensi Pers di Beijing, juga menyerukan gencatan senjata segera di Timur Tengah, setelah Trump mengancam akan melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran dalam beberapa minggu ke depan. 


"Cara militer pada dasarnya tidak dapat menyelesaikan masalah ini, dan peningkatan konflik bukanlah kepentingan kedua belah pihak," ujar Mao. 


Dia mendesak pihak-pihak terkait untuk segera menghentikan operasi militer. 


Trump sebelumnya memberikan sinyal bahwa AS siap untuk mengintensifkan respons militernya terhadap Iran selama 2-3 pekan ke depan, dan mencetuskan akan membombardir Iran hingga kembali ke "Zaman Batu". (*/red)