-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Sosok Mojtaba Khamenei, Pemimpin Tertinggi Baru Iran yang Bikin Trump Tak Senang

Rabu, 11 Maret 2026 | 00.04.00 WIB Last Updated 2026-03-10T17:04:04Z
Mojtaba Khamenei


JAKARTA, bbiterkini.com - Iran telah menetapkan Pemimpin Tertinggi mereka yang baru setelah Ali Khamenei gugur dalam serangan gabungan Israel dan Amerika Serikat (AS). 


Putra kedua Khamenei, Mojtaba Khamenei, kini secara resmi menjadi Pemimpin Tertinggi Iran


Penunjukkkan Mojtaba itu dilakukan usai sembilan hari meninggalnya Khamenei pada Sabtu, 28 Februari 2026. 


Dilansir dari Aljazeera, Senin, 09 Maret 2026, setelah proses di Majelis Pakar, Mojtaba, yang disebut-sebut sebagai calon kuat, terpilih sebagai Pemimpin Tertinggi Iran yang baru. 


Mojtaba Khamenei tidak pernah mencalonkan diri untuk jabatan publik atau mengikuti pemilihan umum, tetapi selama beberapa dekade telah menjadi tokoh yang sangat berpengaruh di lingkaran dalam Pemimpin Tertinggi. 


Ia juga membina hubungan yang erat dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). 


Mojtaba Khamenei yang kini berusia 56 tahun ini tidak pernah membahas masalah suksesi secara terbuka. 


Hal itu dinilai menjadi sebuah topik yang sensitif lantaran kenaikannya ke posisi Pemimpin Tertinggi akan menciptakan dinasti yang mengingatkan pada monarki Pahlavi sebelum Revolusi Islam 1979


Penunjukkan Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran disambut terbuka oleh Garda Revolusi Iran. Mereka menyatakan kesetiaan kepada Ayatollah Seyyed Mojtaba Khamenei. 


"Korps Garda Revolusi Islam... siap untuk patuh sepenuhnya dan berkorban dalam melaksanakan perintah ilahi dari Ahli Hukum Pelindung zaman ini, Yang Mulia Ayatollah Seyyed Mojtaba Khamenei," kata Garda Revolusi dalam sebuah pernyataan dilansir kantor berita AFP, Senin, 09 Maret 2026. 


Dukungan juga datang dari kelompok Houthi. Kelompok yang bermarkas di Yaman ini menyebut penunjukkan ini pukulan besar bagi musuh-musuh Iran. 


Dilansir dari kantor berita AFP, Houthi mengucapkan selamat atas terpilihnya Mojtaba Khamenei. 


Houthi menilai, penunjukkan ini harus dilakukan di tengah kondisi yang krusial antara perang Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran. 


"Kami mengucapkan selamat kepada Republik Islam Iran, kepemimpinannya, dan rakyatnya, atas terpilihnya Sayyid Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam pada saat yang penting dan krusial ini," kata kelompok itu dalam sebuah pernyataan di Telegram. 


Houthi mengatakan, terpilihnya Mojtaba Khamenei sebagai kemenangan baru bagi Garda Revolusi Iran. Dia menyebut, ini juga menjadi pukulan telak bagi musuh. 


"Kemenangan baru bagi Revolusi Islam dan pukulan telak bagi musuh-musuh Republik Islam dan musuh-musuh negara," ujarnya. 


Respons China


Dilansir dari kantor berita AFP, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun mengatakan kepada wartawan pada Senin, 09 Maret 2026, bahwa keputusan Iran untuk menunjuk putra Khamenei adalah "berdasarkan konstitusinya". 


"China menentang campur tangan dalam urusan internal negara lain dengan dalih apa pun, dan kedaulatan, keamanan, dan integritas teritorial Iran harus dihormati," ujarnya ketika ditanya tentang ancaman terhadap pemimpin baru Iran tersebut. 


Beijing adalah mitra dekat Teheran dan telah mengutuk pembunuhan Khamenei, tetapi juga mengkritik serangan Iran terhadap negara-negara Teluk. 


Utusan China untuk Timur Tengah, Zhai Jun mendesak de-eskalasi ketika bertemu dengan Menteri Luar Negeri (Menlu) Arab Saudi, Faisal bin Farhan pada Minggu, 08 Maret 2026. 


"China mendesak semua pihak untuk segera menghentikan operasi militer, mencegah eskalasi ketegangan lebih lanjut, dan menghindari menyebabkan kerugian yang lebih besar bagi rakyat negara-negara di kawasan," ujar Zhai Jun kepada Menlu Saudi tersebut. 


Sementara itu, Menteri Luar Negeri China, Wang Yi mengatakan, perang "seharusnya tidak pernah terjadi" dan menyerukan diakhirinya pertempuran. 


Trump Geram


Presiden AS, Donald Trump dilaporkan 'tidak senang' dengan pemimpin tertinggi Iran yang baru dipilih. Hal itu disampaikan oleh pembawa acara Fox News, Brian Kilmeade. 


Dilansir dari Al Jazeera, Senin, 09 Maret 2026, Kilmeade mengungkapkan bahwa presiden AS itu telah mengatakan kepadanya, "Saya tidak senang" dengan pilihan Iran atas Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi negara yang baru. 


Trump sendiri belum berkomentar secara terbuka mengenai terpilihnya Mojtaba. 


Dalam komentar sebelumnya, Trump menganggap putra Khamenei itu sebagai "orang yang tidak berpengaruh". 


Saat berbicara kepada ABC News pada Minggu, 08 Maret 2026, sebelum Iran mengumumkan terpilihnya Mojtaba, Trump menegaskan bahwa pemimpin tertinggi baru Iran "harus mendapatkan persetujuan dari kami". 


"Jika dia tidak mendapatkan persetujuan dari kami, dia tidak akan bertahan lama," ujarnya, dilansir Al Arabiya. 


Rekam Jejak Mojtaba Khamenei


Ayatollah Seyyed Mojtaba Hosseini Khamenei, putra kedua mendiang Ayatollah Ali Khamenei, dipilih oleh Majelis Pakar Iran sebagai pemimpin tertinggi yang baru untuk negara tersebut, menggantikan ayahnya yang wafat dalam serangan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari lalu. 


Majelis Pakar Iran yang beranggotakan 88 ulama senior telah memilih Mojtaba, seorang ulama berusia 56 tahun, sebagai penerus mendiang ayahnya. 


Hal ini menandakan bahwa kelompok garis keras masih memegang kendali penuh atas Iran setelah Khamenei wafat sepekan lalu. 


Salah satu anggota Majelis Pakar Iran, Mohsen Heidari Alekasir mengatakan, dalam sebuah video pada Minggu, 08 Maret 2026, bahwa seorang kandidat telah dipilih berdasarkan arahan mendiang Khamenei bahwa pemimpin tertinggi Iran haruslah "dibenci oleh musuh". 


"Bahkan Setan Besar telah menyebut namanya," ucap Alekasir dalam pernyataan yang disampaikan beberapa hari setelah Presiden AS, Donald Trump menyebut Mojtaba merupakan pilihan yang "tidak dapat diterima" baginya. 


Mojtaba merupakan tokoh senior yang dekat dengan pasukan keamanan Iran dan kerajaan bisnis besar yang mereka kendalikan. 


Dia menentang para reformis yang berupaya menjalin hubungan dengan Barat, dalam upaya mereka untuk mengekang program nuklir Irna. 


Mojtaba lahir tahun 1969 di kota suci Mashhad dan tumbuh besar saat ayahnya membantu memimpin perlawanan oposisi terhadap Shah. 


Sebagai seorang pemuda, dia pernah bertugas bersama militer Iran dalam perang Iran-Irak silam. 


Dia belajar di bawah bimbingan kaum konservatif agama di Qom, pusat pembelajaran ajaran Syiah, dan memiliki gelar Hoojjatoleslam. 


Dia tidak pernah memegang posisi formal dalam pemerintahan Iran, namun pernah muncul dalam aksi-aksi loyalis meskipun jarang berbicara di depan umum. 


Di sisi lain, peran Mojtaba telah sejak lama menjadi kontroversi di Iran, dengan para pengkritik menolak segala bentuk politik dinasti di negara yang menggulingkan monarki yang didukung AS pada tahun 1979 silam. 


Hubungan dekatnya dengan Garda Revolusi Iran (IRGC), memberikan pengaruh tambahan kepada Mojtaba di seluruh aparatur politik dan keamanan Iran. 


Menurut sumber yang memahami latar belakangnya, Mojtaba juga telah membangun pengaruh di balik layar sebagai "penjaga gerbang" ayahnya. (*/red)