![]() |
| Pembebasan 144 Tahanan Perang Ukraina oleh Rusia. |
JAKARTA, bbiterkini.com - Ukraina dan Rusia sepakat melakukan pertukaran lebih dari 300 tahanan usai pembicaraan yang disebut "produktif" di Abu Dhabi.
Meski demikian, mediator Amerika Serikat (AS) mengakui masih ada pekerjaan besar yang harus dilakukan untuk mencapai kesepakatan lebih luas demi mengakhiri perang.
Seperti dilansir AFP, Kamis, 05 Februari 2026, negosiasi itu menjadi upaya diplomatik terbaru untuk menghentikan konflik paling mematikan di Eropa sejak Perang Dunia II.
Perang tersebut telah menewaskan ratusan ribu orang, memaksa jutaan warga mengungsi, serta menghancurkan sebagian besar wilayah timur dan selatan Ukraina.
Di tengah berlangsungnya pembicaraan tersebut, sebagian besar Ibu Kota Ukraina, Kyiv, masih mengalami pemadaman pemanas di tengah suhu di bawah nol derajat.
Kondisi ini terjadi setelah serangan Rusia berturut-turut melumpuhkan pasokan energi ke ratusan blok apartemen di kota tersebut.
"Hari ini, delegasi dari Amerika Serikat, Ukraina, dan Rusia sepakat untuk menukar 314 tahanan, pertukaran pertama dalam lima bulan," ujar Utusan AS, Steve Witkoff melalui media sosial pada hari kedua pembicaraan di Abu Dhabi.
Kementerian Pertahanan Rusia kemudian mengonfirmasi pertukaran tersebut dengan menyebut masing-masing pihak menukar 157 tahanan.
Meski Witkoff menyebut negosiasi berjalan "terperinci dan produktif" ia menurunkan ekspektasi adanya terobosan cepat.
"Masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan," kata Witkoff.
Diketahui sebelumnya, pada Rabu, 04 Februari 2026, pihak Kyiv juga menggambarkan pembicaraan di hari pertama sebagai "substantif dan produktif".
Negosiator Rusia Kirill Dmitriev pun turut menyampaikan penilaian serupa.
"Pasti ada kemajuan. Semuanya bergerak maju ke arah yang baik dan positif," ujar Dmitriev.
Namun, belum ada pembaruan terkait isu wilayah yang menjadi perdebatan utama.
Tidak terlihat adanya tanda konsesi dari Moskow, yang datang ke meja perundingan dengan menolak berkompromi pada tuntutan utamanya.
Utusan Rusia juga mengecam apa yang disebutnya sebagai upaya negara-negara Eropa untuk "mengganggu kemajuan" tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut.
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky dalam pernyataan resminya, pada Rabu, 04 Februari 2026 menyebut, setidaknya 55 ribu tentara Ukraina telah tewas sejak Rusia melancarkan invasi pada Februari 2022.
Angka tersebut lebih rendah dibanding banyak perkiraan independen.
Sementara itu, Rusia belum mempublikasikan jumlah korban dari pihak militernya.
Penelusuran berita duka dan pengumuman keluarga yang dilakukan BBC bersama media independen Mediazona menemukan lebih dari 160 ribu tentara Rusia yang tewas dalam konflik tersebut. (*/red)
